Catatan Perjalanan Felix Fernandez, Bupati Flores Timur Periode 2000-2005

Catatan Perjalanan Felix Fernandez, Bupati Flores Timur Periode 2000-2005

ONVSOFF.com – Catatan perjalanan Bupati Flores Timur periode 2000-2005 Felix Fernandez, SH.CN. Membangun Flores Timur menjadi lebih baik.

 

I Modal Berkunjung dan Relasi
TPI DIDIRIKAN SECARA HIBA

Pada suatu kesempatan, ketika bertugas di Bank Bumi Daya, saya bekunjung ke kota Bergen, di daerah Norwegia, kota kecil yang terkenal dengan hasil ikannya. Dalam kunjungan kerja ini, saya melihat bagaimana pembiayaan pembangunan kapal, juga berbincang dengan Banker disana, perbincangan berlangsung saat makan siang, dan sesuai kebiasaan disana, diakhiri dengan minum kopi .

Seketika saya teringat pada kota kecil di timur Pulau Flores. Saya mulai bermimpi saat itu, dapatkah Larantuka-Flores Timur, menjadi Kota produksi ikan seperti Bergen . walau udara disana yang sangat dingin, menusuk tulang, tapi semangat kota itu luar biasa.

Setelah mendapat kepercayaan sebagai Bupati Flores Timur (2000-2005), saya mulai menggenjot perikanannya. Melatih para nelayan, menyediakan sarana tangkap dan umpannya, serta mengkoordinasikan pemasarannya. Saya berusaha mendekati pemerintah jepang agar dapat membangun tempat pendaratan ikan (TPI). Pemerintah jepang setuju, TPI dibagun secara hibah atau gratis, tanpa ada biaya yang di keluarkan oleh Pemerintah Daerah. Di lokasi yang sama juga di bangun pabrik es, coldstorage, pelabuhan khusus, mimimarket, dan bunker minyak.

Langkah berikut, Saya mendekati Departamen Kelautan dan Perikanan, dan hasil yang diperoleh adalah Kabupaten Flores Timur mendapatkan kapal pengawas, dan pemancar Radio Pantai, secara gratis, lagi-lagi Pemerintah Daerah tidak mengeluarkan biaya.

Harapan saya semoga dengan ketersediaan sarana prasarana ini, lapangan pekerjaan berambah, para nelayan dapat memanfaatkannya secara maksimal, produksi ikan meningkat, Dan Flores Timur dapat menjadi salah satu kota penghasil ikan terbesar di Indonesia maupun di mata Dunia.

 

II Soal Ikan Kerapu

Suatu malam, saya menjamu makan Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan, Sarwono Kusumaatmaja. Menu yang siap di sajikan tentunya merupakan menu pilihan dan terbaik dari Kabupaten Flores Timur. Di meja prasmanan, beragam menu sudah di sajikan, salah satunya adalah ikan bakar, yang sungguh mengguncang selera.

Saya mempersilahkan Bapak mentri untuk mengambil makan, langkah saya pun mengikuti langkah sang menteri. Sampailah kami pada ikan bakar, berukuran cukup besar yang mengguncang selera tersebut. Tiba-tiba Bapak Menteri berpaling dan memandang saya dan berkata, ” mengapa ikan ini jadi santapan? Sayang sekali!!, ketus Bapak Menteri. “Seharusnya ikan ini menjadi Benih sehingga menghasilkan banyak lagi ikan untuk diekspor . Harganya mahal sekali “,lanjutnya. Terhenyak, tetapi tetap saya jawab , ” siap Pak , disini masih sangat banyak ikan seperti itu, yang ini kita makan saja”, Bapak Menteri langsung menyambar ikan itu dan menyantap dengan lahapnya.

Bapak Menteri Sarwono Kusumaatmaja, menaruh perhatian kepada ekspor ikan kerapu, yang harus dibudidayakan. Di pantai-pantai Kabupaten Flores Timur seharusnya sudah mulai pembudidayaan ikan ini.

 

III DISINILAH PEMBICARAAN ITU DIMULAI
Kemungkinan Menjadikan Larantuka Kota Kembar Fatima

Waktu itu hari Minggu, saya, Bersama Ketua DPRD Kabupuaten Flores Timur, Thomas , serta putra tunggal saya Kiki. Berkunjung ke Lisboa, Portugal. Kunjungan ini rencananya berlangsung selama dua hari. Kecuali Kiki, rombongan kami dibiayai oleh Menteri Pariwisata, kami sudah menjalin relasi dengan baik sebelumnya.

Dalam agenda hari Senin akan ada rapat dengan Duta Besar dan mengikuti pekan promosi pariwisata berbagai negara disana. Karena masih banyak waktu tersisia untuk hari minggu ini, maka kami manfaatkan untuk berkeliling kota Lisboa. Tujuan pertama kami adalah taman kota Lisboa, kami berjalan, berkeliling dan melihat pemandangan taman tepi pantai itu. Banyak orang disana, ada yang duduk-duduk, bercanda bersama keluarga, berolahraga, bermain dengan hewan peliharaannya, serta menyaksikan lomba perahu layar.

Puas berkeliling di taman, kami lalu memutuskan untuk pergi ke Fatima dengan menyewa mobil, dan dikemudi oleh Kiki. Kami melewati Jalan bebas hambatan, disana sini mobil berkecepatan tinggi dan motor gede berseliweran. Kami sempat singgah di one stop area, beristirahat sejenak dengan menikmati minum kopi panas, sayangnya tidak ada pisang goreng kesukaan saya.

Perjalanan kami lanjutkan, setelah hampir dua jam perjalanan, tibalah kami di kota Fatima, kota yang terkenal dengan Penampakan Bunda Maria kepada Lucia, Yacinta, Fransisco, serta ribuan orang di cova da Iria tahun 1917. Dengan menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada umat manusia. Setelah memarkir mobil pada sebuah area parkiran, kami kemudian berjalan perlahan ke tempat bersejarah itu. Tempat yang penuh keheningan, banyak orang berdoa, banyak pula yang ditandu dengan kursi roda mengelilingi situs penampakan. Disisi lain situs penampakan berdiri megah Gereja dan Keuskupan Fatima.

Pada keesokan harinya, senin. Kami rapat sambil sarapan dengan Duta besar Indonesia untuk portugal, Harry Haryono. Kami masih berteman sampai saat ini. Setelah rapat kami kemudian beranjak menuju tempat promosi Pariwisata. Sangat mengesankan, banyak pengunjung yang datang, dan yang pasti kami juga memaparkan Kabupaten Flores Timur, yang dulu bersahabat dengan negara Portugal.

Sore hari setelah dari pameran promosi pariwisata, kami bertemu dengan Mr Braga, dan membuat janji untuk bertemu di Museum Gulbenkian, selasa pagi. Disinilah kemudian saya memulai pembicaraan kemungkinan menjadikan Larantuka sebagai Kota Kembar Fatima, yang kemudian dimatangkan Kedutaan Besar Portugal di Jakarta. Saya bertekad untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Duta Besar Portugal dan saya selaku Bupati Flores Timur menandatangani MOU kota Kembar, dalam MOU tercantum apa yang akaan dilakukan kedepan. Hari itu tarian tradisional Flores Timur diiringi tabuhan gong gendang bertalu-talu di kedubes Portugal dan diresmikan SALA Room, untuk promosi Flores Timur melalui kedutaan itu. Sesuai MOU, bantuan mulai mengalir. Bantuan untuk pembangunan rumah sakit, pembangunan jembatan, dan hal lainya dijanjikan akan dibicarakan lebih lanjut dalam pertemuan Masyarakat Ekonomi Eropa.

Beberapa waktu kemudian, melalui saya Menteri Pariwisata memberi bantuan kepada kabupaten Flores Timur berupa lampu-lampu hias. Sementara itu saya meminta bantuan kepada Dandim 1624 Kabupaten Flores Timur, Jerry Waleleng, untuk mulai mengerjakan dan merapihkan taman kota Larantuka, di sulap menjadi seperti taman kota Lisboa. Bantuan Lampu hias pun mampu menjadikan wajah kota Larantuka menjadi lebih indah dan cantik.

Bersama Menteri Pariwisata dan Dirjen Pariwisata Sapta Nirwandar, disepakati akan membangun Museum Bunda Maria di Larantuka, semua patung2 bersejarah serta peninggalan penting akan disimpan dan dijaga semestinya. Setelah itu saya berusaha mendekati para pengusaha di jakarta, saya minta bantuan membenahi Kapela Tuan Ma, Kapela Tuan Ana, dan taman Doa Pieta.

Sesuai Konsep Kota Kembar, saya pun terus membenahi kota Larantuka. Pada jalan masuk kota, tepatnya di Sandominggo, sebelumnya berdiri patung orang lagi menuang tuak dari nawing, bertulisakan 10 program PKK. “Wah, ngga cocok ni” ungkap saya. Maka dari itu saya mencari cari pematung asal Probolinggo, namanya Bambang. Ia berhasil membuat patung yang sekarang menjadi Kebanggaan Kota Renya.

Ketika masuk kota, pasti teduh memandangnya. Saya bebaskan tanah milik keluarga Bapakp Doris, serta membuat pagar dan tamannya. Begitu pula, jika datang dengan kapal Ferry, akan memandang Pulau Waibalun , dengan arca Gembala Baik yang menggembalakan domba2nya. Saya kemudian menjual ide kepada pembesar di Jakarta, “barang siapa yang nyumbang arca domba, akan didoakn serta mendpat perlindungan”. Hasilnya adalah Menteri Tenaga Kerja, menyumbang dana pembangunan. Dalam perencanaan, di pulau itu akan dibangun Tempat Keheningan, Kontemplasi, Retret.

Selanjutnya ditengah kota, tepatnya di rumahsakit lama-Lokea, akan ditempatkan ditengah taman, Arca Malaikat2 Tuhan dengan Jam Gadang, yang setiap Pukul 06:00 Pukul 12:00 dan Pukul 18:00 akan mengajak orang berdoa angelus, dengan lagu Ave Maria. Semua yang berada di sekitarnya akan berhenti dan berdoa, seperti yang saya lihat dan alami di Manila dan kota Dili.

 

IV Mengapa Harus Ada BPR

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bina Usaha Dana. Tentu anda sudah biasa mendengarnya, mungkin anda menjadi salah satu nasabahnya. Tapi tahukah anda, bahwa satu-satu nya BPR, yang saham nya 100 prosen dimiliki Pemerintah Kabupaten, hanya ada di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur?

Mungkin banyak orang bertanya-tanya, mengapa ada Bank BPR disana? Apakah tidak cukup ada Bank Pemerintah seperti BRI, Mandiri, BNI dan Bank NTT, Bank Swasta lainnya? Apakah ada manfaat Pemerintah Kabupaten mempunyai sebuah Bank, Bank Perkreditan Rakyat?

Setiap Bank memiliki tugas mengumpulkan dana dari masyarakat, dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat. Pada tahun 2001, BPR Larantuka berdiri, diberi ijin operasi oleh Bank Indonesia, telah melaksanakan tugasnya sampai saat ini, bahkan mendapat predikat Bank Perkreditan terbaik di NTT.

Maksud didirikan BPR ini adalah agar bisa membantu permodalan bagi golongan pengusaha yang sangat lemah seperti, nelayan, petani, buruh, pedagang kiosk, pengusaha menengah serta koperasi , dan sebaginya. BPR Membantu dengan memberikan pelayanan yang cepat berbiaya murah, agar bisa memperkuat daya ketahananan pengusahan kecil tersebut.

Bila dikelola oleh management yang memahami visi-misinya. BPR dapat banyak membantu masyarakat ekonomi lemah. BPR hendaknya tidak saja bertumpu dan mengharapkan modal dari Pemerintah Daerah, namun juga dapat mencari dana murah yang begitu banyak tersedia. Dengan membuka jaringan maupun perbanyak relasi . Pemerintah Daerah dan DPRD pasti akan membantu, sehinnga tujuannya dapat tercapai yakni, rakyat yang sejahtera, maju dan mandiri.

Semoga BPR Bina Usaha Dana, tetap setia dengan tugasnya , melayani rakyat kecil, menjangkau ema-ema penjual ikan, menjangkau pedagang sayur di pasar, menjangkau pedagang buah dan hasil pertanian, menjangkau pengusaha gol menengah dan koperasi , dengan tingkat suku bunga yang seringan ringannya dan tidak mencari laba sebanyak-banyaknya. Semuanya untuk kesejahteraan masyarakat Flores Timur yang kita cintai.(magdalena-onvsoff)